Gas Bumi Punya Peran Strategis dalam Transisi Energi Terbarukan

- Senin, 13 September 2021 | 15:59 WIB
Pembangunan pipa gas bumi di Kawasan Industri Kendal (KIK) (muslihun/ayobatang.com)
Pembangunan pipa gas bumi di Kawasan Industri Kendal (KIK) (muslihun/ayobatang.com)


JAKARTA, AYOSEMARANG.COM - Gas bumi akan tetap menjadi energi strategis ditengah berkembangnya energi baru terbarukan seperti panas bumi, angin dan matahari. Gas bumi juga akan memiliki peran sentral dalam proses transisi energi dari energi fosil menuju energi baru yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Komisaris Utama PGN Arcandra Tahar dalam diskusi energi bersama Arcandra Tahar bertema Prospek Gas Bumi Ditengah Tren Renewable Energy". Kegiatan diskusi rutin yang digelar secara live melalui Zoom, FB dan IG pribadi wakil menteri ESDM 2016-2019, baru-baru ini.

Baca Juga: Semarang Makin Panas di Siang Hari, Ini Penjelasan BMKG Jawa Tengah
Arcandra kemudian mencontohkan peran gas bumi ditengah upaya pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap. Mengingat biaya yang cukup mahal jika berdiri sendiri, dalam operasionalisasinya PLTS atap masih akan membutuhkan bantuan baterai atau sumber energi lain.

Fungsi gas atau baterai disini adalah sebagai energi primer yang akan menyokong penerapan PLTS atap ketiga energi dari matahari drop.

Dengan harga gas yang lebih kompetitif, lanjut Arcandra, kombinasi gas bumi dan PLTS akan lebih efisien daripada penggunaan baterai. "Secara komersial mestinya penggunaan gas bumi dalam pengembangan PLTS akan lebih kompetitif daripada penggunaan baterai. PGN dapat membangun sinergi dengan PLN untuk menjalankan strategi ini," jelas Arcandra.

Baca Juga: SAAT Jokowi Tinjau Vaksinasi Covid-19 di Delanggu Klaten

Dalam kesempatan yang sama, Arcandra mengatakan bahwa pasar gas bumi masih sangat lebar. Seperti halnya yang kini sudah dan sedang dilakukan oleh PGN dengan mensuplai kebutuhan gas bagi industri kilang minyak (refinery) yang dikelola oleh Pertamina. Sejumlah kilang minyak yang mendapat suplai gas dari PGN adalah kilang minyak Cilacap, Balongan dan kilang lainnya.

Untuk mendukung pemenuhan gas bagi industri kilang tersebut, PGN tengah membangun sejumlah infrastruktur menuju lokasi kilang. Langkah ini dilakukan melalui pembangunan infrastruktur seperti storage dan regasifikasi melalui fasilitas seperti Floating Storage Regatification Unit (FSRU).

"PGN akan terus mengoptimalkan pasar-pasar eksisting melalui kolaborasi dengan Pertamina sebagai holding migas. Termasuk juga masuk ke industri petrokimia, dimana gas bumi dibutuhkan untuk memproduksi metanol dan amonia yang pasarnya terus meningkat," ujarnya.

Arcandra menambahkan, kebijakan sejumlah negara untuk beralih ke energi baru terbarukan harus dicermati dengan baik. Terutama berkaitan dengan upaya pemenuhan zero carbon di tahun 2050 oleh sejumlah negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa. AS bersama Uni Eropa, Jepang dan Korea sudah memiliki komitmen untuk mencapai zero emisi pada tahun 2050, sekitar 29 tahun lagi.

Halaman:

Editor: arri widiarto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

AstraPay Didukung Kekuatan Ekosistem Astra

Rabu, 15 September 2021 | 17:12 WIB

Harga Emas Antam Naik, Satu Gram Rp936.000

Rabu, 15 September 2021 | 12:07 WIB

DAFTAR Lengkap Harga Seri iPhone 13 di Berbagai Negara

Rabu, 15 September 2021 | 11:40 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp3.000, Jadi Rp932.000

Selasa, 14 September 2021 | 11:59 WIB
X