Serangan terhadap Wiranto Indikasikan Daya Rusak Teroris Menurun

- Senin, 14 Oktober 2019 | 11:44 WIB
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) menunjukkan foto tersangka pelaku dan barang bukti penikaman Menko Polhukam Wiranto saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Polri menyatakan kedua tersangka pelaku yakni Syahril Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Andriana merupakan simpatisan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan motif penikaman sebagai buntut dari penangkapan pimpinan JAD Bekasi Abu Zee. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.
Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo (kanan) menunjukkan foto tersangka pelaku dan barang bukti penikaman Menko Polhukam Wiranto saat konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (11/10/2019). Polri menyatakan kedua tersangka pelaku yakni Syahril Alamsyah alias Abu Rara dan Fitri Andriana merupakan simpatisan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan motif penikaman sebagai buntut dari penangkapan pimpinan JAD Bekasi Abu Zee. ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/wsj.

YOGYAKARTA, AYOSEMARANG.COM-- Aksi teror oleh SA alias Abu Rara yang menimpa Menkopolhukam Wiranto mengindikasikan daya destruksi atau daya rusak para teroris di Indonesia mulai menurun. Penilaian itu menurut Kepala Pusat Studi Keamanan dan Pertahanan (PSKP) Universitas Gadjah Mada Najib Azca.

"Ini refleksi bahwa daya penghancuran atau daya kemampuan destruksi dari kelompok teroris berkurang dibandingkan yang dulu," kata Najib, di Yogyakarta, Senin (14/10/2019).

AYO BACA : Pasca Penusukan Wiranto, Fadel Sebut Perketat Pengamanan Tiga Pejabat

Menurut dia, penggunaan benda tajam untuk melukai langsung target korban berbeda dengan pola yang digunakan oleh kelompok jihadis sebelumnya, khususnya Jamaah Islamiyah (JI). JI lebih dikenal dengan aksi teror yang berimbas kerusakan atau korban yang besar seperti bom Bali pada 2002 atau bom Hotel JW Marriot pada 2003.

Anggota JI, menurut dia, memiliki karakteristik operasi yang terlatih. Mereka mendapatkan pelatihan paramiliter di Afghanistan atau Mindanao, Filipina.

AYO BACA : Wiranto Ditusuk Dua Kali di Perut

Sementara banyak teroris belakangan ini terafiliasi ke Jamaah Ansorut Daulah (JAD) yang pro-ISIS tidak terlatih secara kemiliteran. Aksi teror mereka tidak tertata. Pelakunya justru lebih banyak yang meninggal dibanding korban yang ingin diciptakan.

"Kelompok-kelompok yang belakangan beraksi di sini hanya orang-orang yang terasuki oleh virus jihadisme. Pokoknya yang penting mati, bahkan korbannya siapa tidak jelas pun enggak apa-apa," kata Najib.

Kendati demikian, lanjut dia, kewaspadaan terhadap aksi-aksi teror JAD yang tak terduga itu tak boleh berkurang. Apalagi, seperti yang pernah diungkap Kapolri, mereka memang menargetkan sejumlah pejabat tinggi di Indonesia atau orang-orang yang dianggap memusuhi Islam setelah pembubaran HTI.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Rekomendasi 4 Anime Action Series di Netflix

Selasa, 19 Oktober 2021 | 19:15 WIB
X