Banyak Pasien Covid-19 Meninggal saat Isolasi Mandiri, Ketua IDI Ungkap Penyebabnya

- Kamis, 22 Juli 2021 | 13:42 WIB
Ilustrasi, pemakaman jenazah Covid-19. Ketua IDI mengungkapkan penyebab banyak Pasien Covid-19 meninggal justru saat melakukan isolasi mandiri di rumah. (ayosurabaya)
Ilustrasi, pemakaman jenazah Covid-19. Ketua IDI mengungkapkan penyebab banyak Pasien Covid-19 meninggal justru saat melakukan isolasi mandiri di rumah. (ayosurabaya)

JAKARTA, AYOSEMARANG.COM -- Banyak Pasien Covid-19 meninggal justru saat melakukan isolasi mandiri di rumah. Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Daeng M Faqih ada beberapa faktor yang jadi penyebab hal itu bisa terjadi.

Daeng menegaskan, isolasi mandiri hanya bisa dilakukan pasien Covid-19 yang tanpa gejala atau juga gejala ringan. Sedangkan, pasien dengan gejala sedang, berat, dan kritis harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Namun, lantaran lonjakan kasus positif yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, diakui Daeng, masyarakat sulit mendapatkan tempat tidur di rumah sakit.

"Sekarang banyaknya yang meninggal saat isolasi mandiri. Kita harus terbuka saja, banyak yang mestinya sudah dirawat di rumah sakit, dengan saturasi di bawah 94, bahkan mungkin saturasinya rendah sekali 80 atau 70, karena tidak dapat kamar (di rumah sakit) terpaksa dirawat dirumah. Ini memang agak berat, tapi terpaksa dirawat di rumah karena tidak ada tempat di rumah sakit. Ini memang yang menyebabkan banyak kasus meninggal," terang Daeng dikutip dari Suara.com, Kamis 22 Juli 2021.

Bahkan orang tanpa gejala (OTG) atau bergejala ringan juga ada yang meninggal saat isoman di rumah, lanjut Daeng. Hal itu biasanya disebabkan karena terjadi perburukan kondisi pasien, namun tidak disadari, sehingga terlambat mendapatkan perawatan medis yang tepat.

AYO BACA : Perhatikan, 4 Tanda Saturasi Oksigen Pasien Covid-19 Rendah

Daeng menekankan harus ada pengawasan oleh tenaga kesehatan bagi pasien Covid-19 yang isolasi mandiri. Memang, tidak mungkin datang langsung ke rumah pasien, karena itu, Daeng menyampaikan bahwa pentingnya peran telemedicine yang bisa diakses oleh pasien melalui gawainya masing-masing dari rumah.

Selain itu, baik pasien maupun keluarganya harus memahami alarm atau tanda tubuh jika terjadi perburukan gejala Covid-19.

"Bagi yang melakukan isolasi mandiri, ada alarm kapan dia harus mencari pertolongan ke rumah sakit. Pertama, sebenarnya secara keseluruhan kalau terjadi perburukan atau gejala yang tampak berat. Biasanya gejala yang dikaitkan dengan gangguan pernapasan. Karena gangguan pernapasan sebagai tanda terjadi gejala pneumonia atau radang paru," jelasnya.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan Herlambang

Tags

Terkini

Survei: 70 Persen Masyarakat Merasa Tidak Butuh Vaksin

Jumat, 17 September 2021 | 07:41 WIB

Jokowi: Covid-19 Tak Turun, Ekonomi Tak Naik

Jumat, 17 September 2021 | 06:41 WIB
X