Strategi Memutus Fintech Bodong

- Minggu, 20 Juni 2021 | 12:04 WIB
Hamidulloh Ibda, Dosen Matakuliah Teacherpreneurship Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung
Hamidulloh Ibda, Dosen Matakuliah Teacherpreneurship Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung

AYOSEMARANG.COM -- Bagi pelaku wirausaha, financial technology (fintech) bodong sangat merugikan. Tak sekadar mengganggu iklim bisnis, namun fintech bobong sangat merusak karakter pelaku wirausaha. Maka dibutuhkan solusi memutus mata rantai fintech bodong tersebut. Salah satunya pembiayaan Ultra Mikro (UMi) sebagai lanjutan dari program bantuan sosial yang diinisiasi Kementerian Keuangan. Mengapa? Program UMi membuka ruang demokrasi ekonomi bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di level bawah, sehingga mereka tak lagi berpangku pada fintech abal-abal yang selama ini meresahkan dan menyebalkan.

Perkembangan zaman yang begitu cepat menghadirkan pergeseran pola manual menuju digital. Perubahan dunia ekonomi dan bisnis pun mengalami pergeseran super dahsyat. Salah satunya fintech yang memisahkan sekat antara produsen dan konsumen. Meski ada positifnya, selama ini bisnis yang mengandalkan fintech membawa “cacat bawaan” bernama penipuan. Hal itu disebabkan pelaku usaha di level bawah rentan tertipu dan belum melek literasi digital.

Secara konseptual, World Bank (2016) menyebut fintech sebagai industri yang terdiri atas perusahaan berbasis teknologi agar sistem keuangan dan penyampaian layanan keuangan lebih efisien. Hsueh (2017) berpendapat, fintech atau teknologi keuangan merupakan model layanan keuangan baru yang dikembangkan melalui inovasi teknologi informasi. Sebagai inovasi teknologi dalam layanan keuangan, menurut FSB (2017) fintech dapat menghasilkan model bisnis, aplikasi, proses, produk-produk dengan efek material yang terkait penyediaan layanan keuangan.

Dalam perkembangannya, fintech menjadi kebutuhan vital dalam dunia bisnis yang kemudian mengubah pola bisnis berbasis teknologi. Pergeseran pola bisnis ini dimanfaatkan oknum jahat untuk membuat fintech abal-abal. Data Satgas Waspada Investasi (2019) menemukan 123 fintech lending ilegal, 30 usaha gadai yang tidak terdaftar di OJK, dan 49 entitas penawaran investasi bodong.

Ketika pebisnis di level bawah tertipu lewat fintech abal-abal yang kian menjamur dan sulit diberantas, Kemenkeu harus hadir dengan melakukan gerakan masif melalui program UMi. Program UMi tidak hanya membantu pelaku UMKM di level bawah untuk memajukan bisnisnya, namun menjadi jalan memutus mata rantai fintech bodong dengan memaksimalkan UMi di semua wilayah lewat penguatan literasi digital.

Komitmen Pembiayaan UMi

Dari tahun ke tahun program UMi melaju cepat. Perkembangan itu harus diimbangi dengan komitmen memberantas fintech palsu demi menyelamatkan masyarakat dan penipuan dengan menggantikannya melalui UMi. Ketika iklim bisnis sehat tentu akan melahirkan mata rantai kewirausahaan yang sehat pula. Dalam hal ini, UMi menjadi jawabannya dengan berbagai strategi dan inovasi yang mengawalnya.

Kemenkeu memperkirakan jumlah pelaku usaha mikro penerima UMi sampai akhir tahun 2019 sekitar 2,2 juta orang. Tahun ini ada 1,4 juta penerima, dan jumlah itu melampaui target pemerintah. Faktor pendorong tingginya perkiraan jumlah penerima UMi tahun ini disebabkan tiga lembaga penyalur kredit telah siap menyalurkan akad baru UMi sebanyak Rp 2,76 triliun yang akan disalurkan ke 930 ribu penerima.

Sebagai program yang memberikan fasilitas pembiayaan maksimal Rp10 juta per nasabah yang disalurkan Lembaga Keuangan Bukan Bank (LKBB), program UMi berdampak pada pembentukan “iklim sehat” dalam berbisnis. Artinya, masyarakat sudah sadar bahwa kepedulian pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dengan bantuan lewat UMi kian taji. Ketika pembiayaan UMi dapat membantu masyarakat, akhirnya mereka tidak tergoda dengan fintech yang belum jelas hasilnya.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan Herlambang

Tags

Terkini

Indonesia dan Keadilan

Rabu, 20 Oktober 2021 | 13:05 WIB

Mungkinkah Golkar Akan Menjadi Rumah Besar Bersama

Selasa, 19 Oktober 2021 | 20:49 WIB

Di Balik Kemarahan Risma

Jumat, 8 Oktober 2021 | 14:21 WIB

Esensialitas Daring

Jumat, 1 Oktober 2021 | 12:26 WIB

Kalkulasi poltik dan Fenomena Ganjar Pranowo

Senin, 27 September 2021 | 16:15 WIB

Covid-19 dan Tantangan Kebangsaan Kita

Minggu, 26 September 2021 | 10:49 WIB

Covid-19 Dan Tantangan Kebangsaan Kita

Minggu, 26 September 2021 | 07:48 WIB

Keniscayaan, Hidup Berdampingan dengan COVID-19

Jumat, 24 September 2021 | 11:32 WIB

Kewaspadaan Di Tengah Kegembiraan

Jumat, 24 September 2021 | 10:58 WIB

Media Pemersatu di Tengah Gempuran Medkom dan Medsos

Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:34 WIB

Masa Depan Demokrasi Di Tengah Pandemi COVID 19

Senin, 23 Agustus 2021 | 10:57 WIB
X