Menulis Tembus Media dan Jadi Buku

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 18:37 WIB
Usman Roin, Alumnus Magister PAI FITK UIN Walisongo Semarang. (dok)
Usman Roin, Alumnus Magister PAI FITK UIN Walisongo Semarang. (dok)

AYOSEMARANG.COM -- “MENULIS-itu mudah. Yang susah adalah, menyingkirkan ‘tidak’ menulis”. Apa yang disampaikan oleh Anton Wayu Prihartono selaku Pemred Harian Jogja, saat “Webinar Kepenulisan” dalam rangka 2 tahun Perpusnas Press, Rabu 28 Juli 2021, via zoom meeting, sungguh menginspirasi penulis. Inspirasi ini selanjutnya penulis resume untuk pembaca yang ingin belajar menulis.

Anton, kalau boleh saya panggil, memberikan tambahan amunisi dan semangat yang pasti, bahwa kegiatan menulis itu mudah. Utamanya adalah kita yang ingin tulisannya nongol di media cetak. 

Anton memaparkan, kenapa penulis pemula banyak yang gagal menembus dapur redaksi? Sebab, ada kesalahan yang dilakukan dan belum diketahui secara komprehensif penulis pemula. Kesalahan itu diantaranya, artikel yang ditulis tidak fokus. Bahasanya, kata beliau “ngalor ngidul”, kalau boleh penulis kutip. 

Kemudian, dari sisi tema tidak kontekstual. Sederhananya, tema artikel yang ditulis tidak up date dengan isu-isu kekinian, alias sudah basi. Hal yang lain, papar bang Anton, artikel yang ditulis tidak orisinal idenya sendiri. Melainkan lebih banyak mengutip sana  sini (plagiat). Adapun yang terakhir, artikel yang ditulis tidak memiliki ide yang baru. Bahkan, sampai tidak memiliki kesimpulan terhadap apa yang ditulis.

Solusi Lolos

Sebagai solusi agar tulisan kita tembus media, Anton memberi jurus ampuh menulis hingga kemudian tembus dapur redaksi media. Pertama, tema artikel kudu aktual/update/in/new, terhadap isu-isu kekinian yang terjadi. Jika demikian, sebagai penulis, membaca isu kekinian wajib dilakukan agar kebaruan tema artikel yang dibuat selaras dengan persoalan kekinian. 

Selain aktual, kata Akbar, kita sebagai penulis dapat mengulas isu dengan sudut pandang yang berbeda (kontroversial). Catatannya, penyajiannya logis dan strong secara argumentasi. Atau bisa juga dengan pemberian tanggapan terhadap tulisan penulis yang sudah muncul. Fungsinya, kata bang Akbar, memunculkan ruang dialogis yang lebih argumentatif.

Kedua, kudu kuat, mendalam, dari sisi argumentasi yang dibangun. Dari mana itu bisa dilihat? Dari kelogisan secara nalar. Alhasil, mohon maaf, “tukang becak” sekalipun akan paham saat membaca tulisan yang kita buat.

Ketiga, panjang artikel juga harus disesuaikan dengan ketentuan redaksi. Ketentuan itu bisa dilihat pada sudut bawah atau atas rubrik kolom baik opini, artikel atau apapun namanya yang telah ditentukan oleh redaktur. Karenanya, tulisan yang dibuat kudu padat, ringkas alias tidak bertele-tele, serta populer yang dalam KBBI online mudah dipahami orang banyak.

Halaman:

Editor: Adib Auliawan Herlambang

Tags

Terkini

Media Pemersatu di Tengah Gempuran Medkom dan Medsos

Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:34 WIB

Masa Depan Demokrasi Di Tengah Pandemi COVID 19

Senin, 23 Agustus 2021 | 10:57 WIB

Tanggung Jawab Sosial Pemuda Indonesia

Senin, 23 Agustus 2021 | 10:50 WIB

Konter Naratif Media Sosial dan Bela Negara

Rabu, 18 Agustus 2021 | 11:28 WIB

Peringatan ke 76 Tahun NKRI di Era Pandemi

Minggu, 15 Agustus 2021 | 15:03 WIB

Warna Korporat, Sebuah Keniscayaan

Jumat, 6 Agustus 2021 | 11:31 WIB

3 Tulisan Terpopuler Ayo Netizen Edisi Juli 2021

Kamis, 5 Agustus 2021 | 15:48 WIB
X