Pasar Tradisional Sepi, Warung Tetangga Bangkrut

- Sabtu, 31 Juli 2021 | 18:45 WIB
Sulistiyo Suparno dalam sketsa. (dok pribadi)
Sulistiyo Suparno dalam sketsa. (dok pribadi)

AYOSEMARANG.COM -- Saya sering mendengar tuduhan bahwa minimarket yang kini menjamur hingga ke pelosok desa adalah yang menyebabkan pasar tradisional dan warung tetangga ditinggalkan pembeli alias sepi. Waktu itu saya membenarkan tuduhan itu dengan alasan sederhana: minimarket adalah tempat yang menarik dikunjungi.

Tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an saya berlangganan sebuah koran sore. Suatu hari koran itu memuat berita tentang para pedagang di Pasar Banjarsari, Pekalongan yang mengeluh dagangannya sepi. 

Bebarapa pedagang, menurut koran itu, mengatakan sepinya dagangan mereka bukan karena menjamurnya supermarket dan minimarket, tetapi karena banyak muncul pedagang keliling. 

Para pedagang keliling ini menjajakan dagangan yang sama yang dijual pedagang di pasar, mulai dari sayur, perabot rumah tangga, pakaian, dan apa saja yang bisa dijual mereka jajakan keliling sampai ke pelosok desa. Dapat kita tebak, konsumen lebih memilih berbelanja pada pedagang keliling daripada jauh-jauh ke pasar.

Apalagi sekarang, wow, jumlah pedagang sayur keliling sungguh teramat banyak. Mereka memanfaatkan motor dan mobil bak terbuka mereka untuk menjajakan sayur, berkeliling dari satu kampung ke kampung lain.

Kebetulan tiap bakda subuh saya mengantar istri ke Pasar Pagi di Limpung, Kabupaten Batang, Jawa Tengah untuk berbelanja kebutuhan warung bakso dan soto yang kami kelola. Kami menyaksikan area parkir pasar itu penuh dengan motor dan mobil pedagang sayur keliling yang sedang kulakan. 

Kebetulan pula, tetangga depan rumah kami juga pedagang sayur keliling. Tiap pagi, belasan tetangga berbondong-bondong belanja sayur di tetangga depan rumah kami itu. Warga kampung kami jarang sekali pergi berbelanja ke pasar.

Kalau begini, menurut saya, dagangan pedagang di pasar tradiosional jadi sepi bukan karena keberadaan minimarket, tetapi tersaingi oleh pedagang keliling. Belakangan hari seiring perkembangan teknologi, banyak pedagang pasar yang memanfaatkan ponsel untuk berjualan secara daring (online). Dengan cara ini mereka berusaha bertahan agar tidak kolaps apalagi bangkrut.

Warung Tetangga Juga Kolaps

Halaman:

Editor: Adib Auliawan Herlambang

Tags

Terkini

Media Pemersatu di Tengah Gempuran Medkom dan Medsos

Selasa, 24 Agustus 2021 | 13:34 WIB

Masa Depan Demokrasi Di Tengah Pandemi COVID 19

Senin, 23 Agustus 2021 | 10:57 WIB

Tanggung Jawab Sosial Pemuda Indonesia

Senin, 23 Agustus 2021 | 10:50 WIB

Konter Naratif Media Sosial dan Bela Negara

Rabu, 18 Agustus 2021 | 11:28 WIB

Peringatan ke 76 Tahun NKRI di Era Pandemi

Minggu, 15 Agustus 2021 | 15:03 WIB

Warna Korporat, Sebuah Keniscayaan

Jumat, 6 Agustus 2021 | 11:31 WIB

3 Tulisan Terpopuler Ayo Netizen Edisi Juli 2021

Kamis, 5 Agustus 2021 | 15:48 WIB
X