LPPM Unika Launching dan Bedah Buku dari Tiga Pusat Studi

- Jumat, 7 Mei 2021 | 16:35 WIB
LPPM Unika Launching dan Bedah Buku dari Tiga Pusat Studi (Foto : dok)
LPPM Unika Launching dan Bedah Buku dari Tiga Pusat Studi (Foto : dok)

AYO BACA : Jogo Tonggo Solo Amankan 5 Pemudik dari Tangerang, Dua Positif Covid-19

AYO BACA : Perpustakaan Digital iMagelang Punya Koleksi 4.420 E-Book

GAJAHMUNGKUR, AYOSEMARANG.COM -- Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Unika Soegijapranata menggelar kegiatan bedah buku dari tiga pusat studi secara virtual.

Tiga pusat studi tersebut adalah Pusat Studi Wanita (PSW) dengan judul buku “Perempuan Lintas Ilmu: Bunga Rampai Bahan Ajar Berperspektif Gender”, lalu Pusat Studi Urbans (PSU) judul bukunya “Membangun Kota Inklusif: Sebuah Antologi”, dan Pusat Studi The Java Institute (TJI) bersama judul bukunya “Dampak Jalan Tol Terhadap Pulau Jawa”.

Kepala LPPM Unika Soegijapranata Dr Berta Bekti Retnawati mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh masing-masing pusat studi yang tetap melaksanakan kegiatan dan menolak untuk berdiam diri meski dalam kondisi pandemi covid-19.

“Dalam mengisi kegiatan di tengah pandemi covid-19, masing-masing pusat studi dengan gaya dan caranya masing-masing tetap berkreasi dalam bentuk yang bermacam-macam, yang akhirnya kegiatan tersebut bermuara pada sebuah buku,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Jumat 7 Mei 2021.

Salah satu narasumber, Dr Arianti menyampaikan beberapa poin penting terkait teknis, pengantar buku, kerangka penulisan, dan isi tulisan.

“Dalam sisi teknis, perlu ditemukan tata tulis, template dan layout yang sama, sebagai buku ajar ataukah sebagai buku referensi, karena sisi teknis untuk kedua buku tersebut berbeda targetnya,” imbuhnya.

Peran editor juga sangat penting dalam memberikan pengantar dalam satu bab di depan sebagai pengikat dari beberapa judul penulis dalam tataran empiris, konsep dan contoh.

Dalam buku ajar dan buku referensi perlu juga dibahas mengenai mengapa isu gender yang intersepsi ini harus dibahas dengan ditarik ke dalam isu GESI (Gender Equality and Social Inclusion). Hal ini penting tidak hanya menyangkut target pembacanya saja tetapi juga agar mahasiswa bisa mengetahui spiritnya seperti apa.

“Kesamaan konsep baku sebagai seorang penulis, juga memiliki peran yang penting supaya nanti persoalan yang dibahas dalam buku bisa didudukkan pada konsep yang sama. Selain itu apabila yang dimaksudkan adalah buku ajar, maka perlu diberikan contoh,” ucapnya.

Selanjutnya pada pembahasan buku PSU dengan judul “Membangun Kota Inklusif: Sebuah Antologi”, Pembahas lainnya, Donny Danardono menyatakan, merancang sebuah kota yang inklusif adalah merancang kota yang ramah terhadap berbagai kategori identitas, yaitu gender, difabel, orientasi seksual, agama, usia, status sosial atau kelas sosial warga kota.

“Namun demikian merancang adalah melihat dari jarak. Artinya melihat dari atas, sehingga dengan merancang ‘melihat dari atas’ ada kelemahan yaitu kecenderungannya untuk membekukan berbagai kegiatan warga yang berlangsung di bawah, dan mengabaikan kegiatan warga yang dianggap penting oleh warga itu sendiri,” tuturnya.

Seperti sebuah peta, maka peta adalah sebuah reduksi. Peta tidak mencantumkan sesuatu yang bersifat unik, peta juga menentukan apa yang ‘scene’ (boleh diketahui) dan ‘obscene’(tak layak diketahui, karena tak penting atau diharamkan).

Menurutnya, perspektif kota yang inklusif, berarti juga harus dilengkapi dengan perspektif warga kota itu sendiri, sehingga dengan demikian akan ada dialektika, tambahnya.

Sedang dalam bahasan buku dengan judul “Dampak Jalan Tol Terhadap Pulau Jawa” dari pusat studi TJI, Mohamad Agus Setiawan sebagai pembahas, menilai bahwa buku tersebut bersifat komprehensif atau multidisiplin dan bisa menjadi sarana edukasi dan informasi yang menarik kepada masyarakat, terutama bagi para pengambil keputusan.

“Buku ini bisa memberikan masukan kepada para pengambil keputusan dalam berkoordinasi antar instansi, bagaimana mempersiapkan berbagai aturan antara pemerintah pusat dan pemerintah di daerah sikronisasinya mengenai keberadaan jalan tol itu supaya bisa memberikan manfaat optimal kepada masyarakat,” jelasnya.

Namun sebaiknya dalam penyusunan penulisan isi buku ini bisa lebih sistimatik, sehingga akan sangat membantu mengarahkan pembaca lebih terstruktur memahami tujuan penulisan. Urutan tulisan tersebut bisa dimulai dari sejarah, gambaran umum, dan dampak adanya jalan tol trans Jawa yang meliputi antara lain pada bidang kesenian, pertanian, pariwisata dan operasional.

"Dalam buku ini juga dijelaskan salah satunya adalah adanya peningkatan pariwisata khususnya di kota Semarang sebagai penghubung antara dua kota besar yaitu Jakarta dan Surabaya,  yaitu sebagai transit turis domestik dalam melakukan perjalanan. Pemerintah juga berharap bahwa dengan terealisasinya jalan trans Jawa adalah adanya konektivitas dan efisiensi logistik. Dan tampaknya tidak terlalu menjadi fokus dalam tulisan-tulisan dalam buku ini," katanya.

AYO BACA : 3 Mahasiswa Unika Raih Prestasi di Kompetisi Nasional The 20th ATV

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

5 Cara Benar Belajar Matematika, Dijamin Langsung Bisa

Selasa, 19 Oktober 2021 | 11:03 WIB

5 Kelebihan Belajar Online untuk Anak-Anak

Senin, 18 Oktober 2021 | 18:48 WIB

BEM UPGRIS Gelar Porsima dengan Prokes Ketat

Senin, 18 Oktober 2021 | 13:38 WIB

Unika Gelar Donor Darah Peringati 10 Tahun NUNI

Selasa, 12 Oktober 2021 | 19:20 WIB

UPGRIS Targetkan Penambahan Jurnal Terindeks Scopus

Selasa, 12 Oktober 2021 | 14:05 WIB
X