Ilmuwan Sosial-Humaniora Didorong Hasilkan Riset yang Berdampak bagi Masyarakat

- Rabu, 4 Agustus 2021 | 14:13 WIB
Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman memberikan sambutan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, Rabu (4/8/2021), melalui Zoom dan disiarkan melalui kanal Youtube.(dok)
Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman memberikan sambutan dalam webinar yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, Rabu (4/8/2021), melalui Zoom dan disiarkan melalui kanal Youtube.(dok)

 

SEMARANG, AYOSEMARANG.COM - Dosen dan peneliti dalam bidang sosial dan humaniora didorong untuk menghasilkan riset yang memiliki dampak terhadap penyelesaian berbagai permasalahan di tengah masyarakat. Di samping itu, hasil kajian diharapkan mampu menjadi referensi bagi pemangku kepentingan dalam mengambil kebijakan.

Peneliti dari La Trobe University, Australia, Dina Afrianti PhD, mengatakan kebijakan penyelarasan dunia akademik di perguruan tinggi dengan industri juga menjadi fenomena di Australia. Hal itu, di satu sisi, merupakan dampak dari industrialisasi dan liberalisasi pendidikan. 

AYO BACA : Hebat! Tiga Mahasiswa Unnes Berhasil Manfaatkan Limbah Pelepah Pisang untuk Pembuatan Genteng Ramah Lingkungan

Meski demikian, menurut Dina, perguruan tinggi tak boleh meninggalkan prinsip pembelajaran kritis. Studi menyebut, berpikir kritis merupakan keterampilan terpenting pada masa-masa mendatang, selain komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.

Dalam studi sosial dan humaniora, studi kritis menjadi ruh dari penelitian. Namun, kajian dan studi kritis mesti dijalankan oleh peneliti secara objektif. “Dampak apa yang bisa diberikan oleh penelitian sosial dan humaniora? Tentu saja untuk menjawab hal itu, pertama-tama hasil penelitian harus dipublikasikan agar publik tahu,” ujar Dina, dalam webinar “The Strategic Roles of Social and Humanities in the National and Global Landscape”, yang diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang, Rabu 4 Juli 2021 melalui Zoom.

Dina menyebutkan, di Australia, pemerintah dalam kurun lima tahun terakhir mengurangi jumlah pendanaan untuk ilmu sosial dan humaniora. Menurut pemerintah, pada masa mendatang, hanya ilmu yang terkait dengan teknologi dan sains yang bakal lebih berkontribusi, terlebih pada masa setelah pandemi. Bahkan, mahasiswa yang mengambil departemen sosial dan humaniora mesti membayar hingga lima kali lipat ketimbang sains. 

AYO BACA : Mahasiswa UNNES Ciptakan Aplikasi Inspirasi Masakan, Solusi Pedagang di Masa Pandemi

Ia menyebut upaya untuk memperjuangkan disiplin ilmu ini agar mendapatkan tempat dan berkontribusi telah menjadi pemikiran ilmuwan di banyak negara.

Halaman:

Editor: Arie Widiarto

Tags

Terkini

Jiwa Pemimpin Bisa Diasah melalui Pelatihan

Selasa, 14 September 2021 | 16:06 WIB

Pemilihan Direktur Polines Diharap Lewat Mufakat

Senin, 13 September 2021 | 14:53 WIB

Awali Kegiatan Perkuliahan, Unpand Gelar PKKMB

Senin, 13 September 2021 | 14:16 WIB
X