(POKOKMEN PSIS) Kisah ‘Penculikan’ I Komang Putra: Mirip Adegan Film, Dijemput dari Resepsi Pernikahan untuk Bertanding Lawan PKT Bontang

- Selasa, 27 Juli 2021 | 13:04 WIB
I Komang Putra saat hendak dijemput oleh jajaran manajemen PSIS untuk langsung dibawa ke Semarang di hari pernikahannya. Momen penjemputan itu jadi salah satu fragmen bersejarah bagi Komang dan Laskar Mahesa Jenar. (Dok Arief Rahman)
I Komang Putra saat hendak dijemput oleh jajaran manajemen PSIS untuk langsung dibawa ke Semarang di hari pernikahannya. Momen penjemputan itu jadi salah satu fragmen bersejarah bagi Komang dan Laskar Mahesa Jenar. (Dok Arief Rahman)

SEMARANGSELATAN, AYOSEMARANG.COM -- Hari itu 18 Mei 2000, PSIS Semarang akan menjamu PKT Bontang di Stadion Jatidiri. Laga itu cukup krusial bagi PSIS karena pada tahun itu Mahesa Jenar sedang tertaih-tatih untuk lolos dari jurang degradasi Kompetisi Liga Indonesia (V).

Namun di saat yang bersamaan, kiper andalan mereka I Komang Putra dikabarkan tidak bisa tampil. Bukan cedera yang membekap atau akumulasi kartu yang menghambat tapi Komang akan melangsungkan pernikahan dengan istrinya saat ini Maria Yuliana Pertiwi.

Komang tidak salah nikah di hari itu. Pasalnya pertandingan ini mundur dari jadwal yang ditentukan. Awalnya laga ini akan dimainkan pada malam hari namun entah kenapa dimajukan di sore hari. Alhasil, jajaran manajemen dan pelatih Edi Paryono ketar-ketir.

Edy Paryono sebetulnya bisa saja memainkan Djoko Darwanto sebagai kiper pengganti. Namun entah kenapa hati Paryono kurang yakin. Dia juga punya alasan sangat riskan melewati sebuah pertandingan dengan satu kiper.

Namun apa yang terjadi di hari itu, barangkali bisa jadi satu fragmen sejarah yang harus diingat bagi PSIS Semarang. Jajaran manajemen PSIS tampaknya paham bagaimana kegelisahan Edy Paryono.

Hampir semua manajemen hadir ke pernikahan Komang. Dalam arsip Suara Merdeka edaran 19 Mei 2000, tercatat ada nama Soetrisno Soeharto, mantan Wali Kota Semarang yang saat itu menjadi ketua umum. Lalu manajer tim Simon Legiman, eks-ketua harian Ir Mochtar, ketua umum Soetjipto SH dan asisten manajer tim Agus Sulistyo.

Rombongan Semarang itu berduyun-duyun datang ke pernikahan selain ikut merasakan bahagia juga dengan membawa misi lain: menculik Komang.

Selepas akad dan selesai bersalam-salaman, jajaran manajemen langsung meminta Komang cabut. Pakaian kebaya langsung dilepas. Dengan hanya memakai kaus oblong dan celana pendek, Komang langsung masuk mobil dan konvoi ke Semarang.

Ade Oesman, yang saat itu masih menjadi wartawan Harian Wawasan turut jadi saksi dalam kisah penculikan itu. Ade berkata jika momen itu tidak bisa dia lupakan. Meskipun sudah 20 tahun terlewat namun dia masih ingat jelas bagaimana peristiwa itu berlangsung.

Halaman:

Editor: Budi Cahyono

Tags

Terkini

X