Pilkada Solo: Sarasehan dengan PBB, Mantan Napi Teroris Bom Bali Menaruh Harapan pada Gibran

- Selasa, 24 November 2020 | 19:50 WIB
Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri sarasehan dengan Partai Bulan Bintang (PBB) di Gedung Joeang 45, Jalan Kapten Mulyadi No. 113, Kedunglumbu, Pasarkliwon, Senin (23/11/2020), malam. (ist)
Gibran Rakabuming Raka saat menghadiri sarasehan dengan Partai Bulan Bintang (PBB) di Gedung Joeang 45, Jalan Kapten Mulyadi No. 113, Kedunglumbu, Pasarkliwon, Senin (23/11/2020), malam. (ist)

SOLO, AYOSEMARANG.COM -- Calon Wali Kota Solo dari PDI Perjuangan Gibran Rakabuming Raka (33) terus melakukan konsolidasi dengan berbagai pihak. Kali ini ia melakukan sarasehan bersama Partai Bulan Bintang (PBB) di Gedung Joeang 45, Jalan Kapten Mulyadi No. 113, Kedunglumbu, Pasarkliwon, Senin (23/11/2020), malam.

Sekjen PBB, Afriansyah Noor menyebut sosok Gibran bisa membawa masyarakat Solo lebih makmur. Dia mengatakan, sarasehan bersama Gibran tersebut disaksikan seluruh keluarga besar PBB di Indonesia melalui zoom meeting. 

“Mas Gibran merupakan figur milenial yang progresif, aktif, pengusaha muda, dan baik.  Insyaallah bisa membawa masyarakat lebih makmur. Kita siap bekerja sama dengan pemerintah, kalau ada kelompok inteloran yang berani ganggu, kami siap melawan itu semua,” ujar Afriansyah lantang saat sambutan.

Sementara itu, Gibran berterima kasih atas dukungan yang diberikan. Menurutnya, Gibran sudah tak berpikir mau kalah atau menang dalam Pilkada serentak di tengah pandemi.

“Terpenting kesehatan masyarakat yang utama. Sejak Maret sudah tidak ada relawan politik lagi, saya arahkan teman-teman relawan untuk melakukan aksi kemanusiaan,” tutur Gibran.

Dalam sarasehan tersebut, ada yang sangat spesial. Satu di antara peserta sarasehan, Joko Tri yang mengaku mantan napi teroris Bom Bali meminta perhatian Gibran agar tetap memberi ruang untuk berkarya. 

“Saya mantan napi teroris bom Bali, dengan Pak Rudy (FX Hadi Rudyatmo, Wali Kota Surakarta) kami diberi ruang untuk membentuk yayasan, namanya Gemassalaam. Waktu pandemi kemarin kami bersama teman-teman menyumbang masker sebanyak 2.000 dan membantu paket sembako,” terangnya.

Joko yang terlibat di Bom Bali pada 2002 itu mengaku ditangkap saat 2004, ia harus menjalani hukuman selama 4 tahun. 

“Tahun 2008 saya keluar, harapannya peran pemerintah bisa membantu kami untuk kembali ke masyarakat. Karena masih banyak terjadi penolakan dan stigma negatif. Alhamdulillah saya bersama teman-teman lainnya bisa kembali ke NKRI, sebelumnya saya kerja ikut orang jualan bestik di Penumping,” ujarnya antusias.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

DLH Batang: World Cleanup Day Momen Aktifkan Bank Sampah

Jumat, 24 September 2021 | 17:28 WIB

Peran Serta Masyarakat Dibutuhkan Untuk Pengawasan TKA

Jumat, 24 September 2021 | 17:02 WIB

Pencanangan Kampung Tangguh Narkoba di Jogonalan Klaten

Kamis, 23 September 2021 | 16:02 WIB

Masih Banyak Warga Batang hanya Vaksinasi Dosis Pertama

Kamis, 23 September 2021 | 13:16 WIB
X