Imam Besar Masjid Istiqlal Prihatin Masih Terjadi Intoleransi Agama

- Minggu, 4 Agustus 2019 | 20:17 WIB
KH Nasaruddin Umar MA menjadi pembicara Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara, di Hotel Laras Asri, Kota Salatiga, akhir pekan lalu. (Istimewa)
KH Nasaruddin Umar MA menjadi pembicara Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara, di Hotel Laras Asri, Kota Salatiga, akhir pekan lalu. (Istimewa)

SALATIGA, AYOSEMARANG.COM -- Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta Prof Dr KH Nazaruddin Umar MA merasa prihatin masih terjadi intoleransi umat beragama yang masih senang mencari kesalahan orang lain. Dalam perspektif ilmu tasawuf, kata dia, orang yang masih senang mencari kesalahan orang lain menunjukkan bahwa orang tersebut masih harus belajar. Sedangkan orang yang cenderung menyalahkan diri sendiri adalah orang yang sedang belajar. 

Tidak perlu mencari kambing hitam atau kambing putih. Lebih baik menjadi bagian orang yang mampu menyelesaikan masalah tanpa harus membusungkan dada, tegasnya.

Dia menyatakan hal itu dalam Seminar Internasional Toleransi di Kawasan Asia Tenggara, di Hotel Laras Asri, Kota Salatiga, akhir pekan lalu. 

Sekretaris Umum MUI Kota Salatiga Dr KH Miftahuddin MAg menjelaskan, selain Nasaruddin Umar, tampil sebagai pembicara Ketua Jamiyah Ulama Fathoni Darussalam Patani Thailand Dr Ahmad Kamae Waemusor bin HJ Yusof, Pengarah Pusat Perhubungan Awam dan Antar Bangsa Negara Brunei Darussalam Hj Sammali bin HJ Adam, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jateng Dr KH Abu Hapsin Umar, dan Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi.

AYO BACA : Motoran, Ganjar Cek Jalur Alternatif Semarang-Magelang

Seminar diikuti utusan MUI Kabupaten/Kota se- Jateng, Perguruan Tinggi Islam, Pengasuh Pondok Pesantren, Ormas Islam dan Penyuluh Agama Islam se Kota Salatiga.

Prof Nasaruddin Umar yang juga mantan Wakil Menteri Agama itu mengatakan, memang ada perbedaan corak Islam daratan (Arab) dan Islam kepulauan seperti di Indonesia-Asia Tenggara.

Kultur Arab masyarakatnya dipengaruhi oleh strata sosial. Strata yang paling tinggi adalah keturunan Quraish bin Hasyim. Strata terendah para budak dan masyarakat pendatang di Arab. Kalau Islam Kepulauan corak masyarakatnya egaliter dan toleran, tegasnya.

Menurutnya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kiblat umat Islam memang Kakbah di Kota Suci Makkah, tapi kiblat masyarakat Islam adalah Indonesia, termasuk Asia Tenggara.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

PSISa Salatiga: Lini Serang Masih jadi PR

Kamis, 16 September 2021 | 19:33 WIB

Satgas Covid-19 Pusat Kunjungi Kota Salatiga

Jumat, 20 Agustus 2021 | 18:55 WIB
X