DPU Gunakan Alat Khusus Pantau Penurunan Tanah di Semarang

- Kamis, 9 September 2021 | 11:42 WIB
Rob yang terjadi di Tambak Rejo Kota Semarang. Daerah pesisir belakangan selalu dilingkupi kabar penurunan tanah.  (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)
Rob yang terjadi di Tambak Rejo Kota Semarang. Daerah pesisir belakangan selalu dilingkupi kabar penurunan tanah. (Ayosemarang.com/ Audrian Firhannusa)



SEMARANG UTARA, AYOSEMARANG.COM -- Dinas Pekerjaan Umum atau DPU terus memantau secara realtime penurunan tanah yang terjadi di Semarang.

Data pengamatan penurunan tanah kemudian dikirim ke Bappeda Kota Semarang untuk dikaji lebih lanjut.

Kepala DPU Kota Semarang Sih Rianung melalui Kepala UPTD Pengelola Pompa Banjir Wilayah Tengah II Semarang, Yoyok Wiratmoko mengatakan, di dalam Stasiun Pompa Drainase terdapat 4 buah alat ukur penurunan tanah.

Baca Juga: Penurunan Tanah Kota Semarang Tiap Tahun 10 Sentimeter, Pemkot Lakukan Berbagai Solusi

Alat tersebut berupa besi yang masuk ke dalam lubang yang jika terjadi penurunan tanah maka besi tersebut akan ikut bergerak turun.

"Ini adalah untuk alat ukur penurunan tanah di lokasi kami. Dibuat 2012 dimana tahun 2021 ada di (tanda) paling atas. Ini sampai Juni 2021 penurunan sekitar  1 meter, setelah hitung setiap bulan rata-rata 0,5 cm," kata Yoyok, Rabu 8 September 2021.

Yoyok menambahkan, jika gedung utama di rumah pompa tidak akan mengalami penurunan. Sebab pondasinya ditanam pada bagian tanah yang keras.

 “Kedalaman tiang pancang bangunan rumah pompa, kantor dan fasilitas penting lainnya sekitar 35 meter,” ujar Yoyok.

Baca Juga: Stasiun TV Korea Selatan Mnet Remix Azan, Warganet Indonesia Murka

Rumah pompa ini berdiri bisa dibilang cukup aman dari penurunan muka tanah. Sehingga  saat muka tanah turun perlahan, bangunan di sekitar gedung utama bahkan jalan di depan gedung terlihat mengalami penurunan.

"Ini dulunya sejajar dengan paving-paving di sini, sekarang ambles. Ya amblesnya ini bertahap tidak langsung, dan penurunan tanahnya terbilang cukup tinggi," bebernya.

Penurunan muka tanah terlihat jelas sejumlah lokasi khususnya Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara.

Sejauh ini, warga mensiasatinya dengan meninggikan permukaan tanah rumah. Namun ada juga rumah-rumah yang hanya lantai rumahnya saja yang ditinggikan sehingga rumah terlihat pendek dari jalan di depannya.

Baca Juga: Penurunan Tanah di Semarang Mengkhawatirkan, Warga Tambak Lorok Pilih Bertahan

Misalnya saja rumah milik ketua RW 15, Slamet Riyanto yang terlihat pendek. Bahkan lantai dua bangunan rumah milik Slamet sudah hampir sama dengan tinggi jalan di depannya.

"Yang saya rasakan wilayah kita memang ada penurunan tanah. Ini kan rumah mertua, dulu ketinggian (lantai pertama) hampir 2 meter," kata istri Slamet, Sri Wahyuni.

Slamet harus menyesuaikan kondisi seperti harus memasang tanggul di depan rumah agar air rob tidak masuk ke dalam rumah, hingga memindahkan meteran listrik dan saklar ketempat yang lebih tinggi.

Editor: adib auliawan herlambang

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Jawa Tengah Jadi Provinsi Pertama yang Miliki Brinda

Kamis, 16 September 2021 | 12:18 WIB
X