Kinerja Bank Jateng Tumbuh Menggembirakan

- Kamis, 17 Oktober 2019 | 18:30 WIB
Petugas Bank Jateng melayani nasabah, Selasa (28/5/2019). (Arie Widiarto/Ayosemarang.com)
Petugas Bank Jateng melayani nasabah, Selasa (28/5/2019). (Arie Widiarto/Ayosemarang.com)

SEMARANG TENGAH, AYOSEMARANG.COM – Bank Jateng pada tahun ini dikategorikan oleh regulator dengan Tingkat Kesehatan Bank (TKB) pada Komposit 2 (Sehat). Hal tersebut sejalan dengan kondisi di tahun-tahun sebelumnya yang berada pada kondisi sehat, sehingga Banknya Orang Jawa Tengah ini hari demi hari mengalami pertumbuhan yang stabil bahkan cenderung berkembang. 

Berdasarkan laporan Kinerja Keuangan per 30 Septermber 2019, Asset Bank Jateng tercatat sebesar 76,441 Triliun atau mengalami pertumbuhan sebesar 16,47% dibanding dengan tahun sebelumnya yang sebesar 65,629 Triliun. 

Di sisi Dana Pihak Ketiga Bank Jateng mengalami pertumbuhan sebesar 19,64% yaitu dari 52,193 Triliun di tahun 2018 menjadi 62,446 Triliun di tahun 2019 pada periode yang sama. Pada sektor perkreditan, telah disalurkan sebesar Rp 48,593 Triliun pada tahun 2019 dengan pertumbuhan sebesar 6,63% dari tahun sebelumnya sebesar Rp 45,570 Triliun. Sedangkan untuk Laba Usaha mengalami sedikit penurunan dari tahun 2018 lalu sebesar Rp 1,536 Triliun menjadi  Rp 0,893 Triliun di tahun 2019 dari target sebesar Rp 1,200 Triliun di akhir tahun 2019. Hal ini sejalan dengan Rencana Bisnis Bank (RBB)  yang telah disusun dan sepakati bersama antara Bank Jateng dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 3.  

“Untuk  mencapai target diakhir tahun kami tetap optimis akan dapat dicapai”, kata Supriyatno kepada wartawan, Rabu (16/10/2019).

AYO BACA : Cerianya Para Ibu dalam Pelatihan Membuat Nugget

Diungkapkan, bahwa NPL atau Non-Performing Loan merupakan salah satu indikator Tingkat Kesehatan Bank (TKB). Indikator tersebut merupakan rasio keuangan pokok yang dapat memberikan informasi penilaian atas kondisi permodalan, laba usaha, risiko kredit, risiko pasar dan risiko likuiditas. NPL merupakan indikator yang harus dicermati dengan seksama agar tidak melampaui batas yang ditetapkan oleh regulator.

Mengacu Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.03/2017 tanggal 4 April 2017 tentang Penetapan Status dan Tindak lanjut Pengawasan Bank Umum, ditetapkan bahwa batas tertinggi rasio kredit bermasalah (NPL) adalah sebesar 5%, sedangkan besaran kredit bermasalah (NPL) Bank Jateng per September 2019 adalah sebesar 2,98% ekuivalen Rp 1,448 Triliun. 

“Kami berupaya untuk melakukan penarikan kembali atau recovery. Artinya, jangan sampai masyarakat termakan isu/berita yang disampaikan pihak lain yang berupaya mendiskriditkan kinerja Bank melalui data yang tidak benar. Bisa jadi, ada maksud lain dibalik itu semua, ungkapnya.

Menurutnya, meski Bank Jateng masih pada kategori sehat dan aman, pihaknya sepakat agar terus dilakukan pembenahan dan pengembangan, termasuk didalamnya adalah pengawasannya. Dalam konteks pengawasan, keberadaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) diakui sangat penting kerena perbankan terus diingatkan akan rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Sedangkan dalam hal pengembangannya, dikatakan bahwa “Kami  bekerja dengan selalu berinovasi dan dinamis, tetapi tetap dalam koridor prinsip kehati-hatian karena perbankan adalah usaha yang berisiko tinggi,“ katanya.

Halaman:

Editor: Abdul Arif

Tags

Terkini

Masih ada Rentenir Berkedok Koperasi di Kendal

Minggu, 19 September 2021 | 18:35 WIB

Pembangunan TPQ Plus Masjid Al Qodar Sendangmulyo Dimulai

Minggu, 19 September 2021 | 15:33 WIB

Update Stok Darah Semarang Jumat 17 September 2021

Jumat, 17 September 2021 | 16:30 WIB
X