[KAMUS SEMARANGAN] Bahasa Semarang, Keluar dari Patron Bahasa Jawa Karena Akulturasi Budaya

- Jumat, 18 Juni 2021 | 19:20 WIB
Bahasa Jawa Semarangan tidak bisa sesuai patron bahasa Jawa standar. Sebab di dalamnya terdapat berbagai akulturasi budaya. (Ayosemarang/ Arie Widhiarto)
Bahasa Jawa Semarangan tidak bisa sesuai patron bahasa Jawa standar. Sebab di dalamnya terdapat berbagai akulturasi budaya. (Ayosemarang/ Arie Widhiarto)

SEMARANG SELATAN, AYOSEMARANG.COM -- Bahasa bersifat dinamis. Instrumen komunikasi masyarakat ini bisa saja berubah sesuai di mana lokasinya berada dan situasi yang sedang dihadapi, termasuk dalam hal ini adalah bahasa Jawa yang dighunakan di Kota Semarang. Hal itu juga diamini sekaligus juga dikaji oleh Hartono Samidjan, peneliti bahasa Kota Semarang dalam buku Halah Pokokmen.

Bedasarkan penelitiannya, Bahasa Jawa itu memiliki 2 prinsip utama yang dipegang teguh, yakni unggah-ungguhing basa (tingkat tutur) dan paramasastra (cara menyusun kata-kata dalam sebuah kalimat agar menjadi bahasa yang baik dan indah). Secara umum tingkat tutur dibagi tiga, yakni krama inggil, krama madya, dan ngoko.

Ada 2 aspek penting tadi akan terus bertahan selama bahasa Jawa berada di Surakarta dan Yogyakarta, sebab di 2 kota itu diakui sebagai pusat kebudayaan Jawa karena terdapat lingkungan keraton.

Semakin jauh dari pusat kebudayaan, bahasa akan semakin bergeser. Faktornya tentu ada banyak, terutama kegencaran pengaruh budaya asing yang dibawa oleh kaum pendatang. Fenomena ini terjadi di kawasan pesisir Jawa termasuk Kota Semarang.

Di Surakarta dan Yogyakarta, tindak tutur bahasa, juga dipengaruhi oleh status sosial. Misalnya dengan orang yang begitu tua atau memiliki kedudukan tinggi, harus menggunakan bahasa yang sopan atau krama inggil. Namun di Kota Semarang, hal itu tidak begitu tampak.

Di Semarang yang dipenuhi akulturasi budaya, pengungkapan bahasanya tidak begitu mematuhi patron. Misalnya saja panggilan raden atau ndara tidak begitu dikenal. Namun lebih akrab panggilan juragan. Gaya bicara orang Semarang juga lugas dan apa adanya.

AYO BACA : Yuk, Kenalan dengan Bahasa Gaul Khas Semarangan

Nada suara yang diungkapkan juga cenderung tinggi dan tidak takut dianggap urakan. Selain itu juga tidak begitu mengindahkan krama inggil atau bahkan salah menempatkan krama inggil.

Gaya bicara yang digunakan juga cenderung praktis. Bahkan diksi yang digunakan juga sering disingkat. Contoh perbedaanya seperti ini:

Halaman:

Editor: Adib Auliawan Herlambang

Tags

Terkini

Sudah Sampai Pembahasan, Jateng Siap Wujudkan Brinda

Kamis, 16 September 2021 | 19:51 WIB

PSISa Salatiga: Lini Serang Masih jadi PR

Kamis, 16 September 2021 | 19:33 WIB

Covid-19 di Kendal Renggut 16 Ibu Hamil

Kamis, 16 September 2021 | 18:41 WIB

Gandeng Dinkes, Lapas Semarang Gelar Pemeriksaan HIV

Kamis, 16 September 2021 | 15:30 WIB

Update Stok Darah PMI Kota Semarang 16 September 2021

Kamis, 16 September 2021 | 14:25 WIB
X